SERINGKALI kita mendengar: “Aku bukan nak mengumpat, tapi ini cerita betul, sumpah aku tak tipu...” Kata-kata seperti ini atau yang seumpamanya dimanfaatkan oleh pengumpat sebagai pembuka bicara. Sedar atau tidak, sebenarnya mereka sudah melakukan dosa besar dan berhadapan dengan ancaman Allah. Hal ini berlaku kerana mereka memberikan tafsiran salah mengenai mengumpat. Bagi mereka, bercakap perkara benar yang dibenci pelakunya pada orang lain bukan dikategorikan sebagai mengumpat.
Apa itu mengumpat?
Mengumpat dalam bahasa Arab adalah ‘ghibah’. Ia berasal daripada perkataan ‘ghaaba’ iaitu hilang daripada pandangan. Disebut ‘ghibah’ kerana perbuatan mengumpat dilakukan tanpa kehadiran orang yang diumpat. (Lihat: 'Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari oleh al-'Aini, 8/208).
Al-Imam al-Munawi berkata: “Ghibah (mengumpat) adalah menyatakan keaiban seseorang di belakangnya sama ada berbentuk perkataan, perbuatan atau isyarat.” (Lihat: Faidh al-Qadir Sayarh al-Jami' al-Shaghir oleh Zainuddin al-Munawi, 3/166).
Nabi sallallaahu 'alaihi wa sallam (s.a.w) pernah menjelaskan mengenai erti mengumpat. Sabda Baginda: “Mengumpat adalah menyebut sesuatu perkara yang tidak disukai saudaramu (di belakangnya). Lalu seorang sahabat Baginda bertanya: Apa pandanganmu sekiranya apa yang aku sebutkan benar-benar ada saudaraku? Nabi menjawab: “Jika engkau menyebut sesuatu yang benar-benar ada pada saudaramu (sedang dia tidak menyukainya), maka kamu sudah mengumpatnya. Jika sesuatu yang kamu sebutkan tidak berlaku ke atas saudaramu, maka kamu sudah memfitnahnya.” (Hadis riwayat Muslim, no: 2591)
Saya anggap penjelasan Nabi sangat mudah difahami. Semua perkara dibenci saudara kita untuk didedahkan walaupun ia benar, maka usaha mendedahkannya dikategorikan Nabi sebagai mengumpat.
Ancaman Allah:
Firman Allah, maksudnya: “Dan janganlah mengumpat antara satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu berasa jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Surah al-Hujurat, 49:12)
Firman Allah lagi: Maksudnya: “Kecelakaan bagi pengumpat dan pecela.” (Surah al-Humazah, 104:1)
Sabda Nabi maksudnya: “Sesiapa yang menyelamatkan daging (kehormatan) saudaranya daripada diumpat, nescaya Allah akan membebaskan dia daripada neraka.” (Hadis riwayat Ahmad, no: 27062)
Ini bererti sesiapa yang mengumpat, balasannya neraka Allah, na'uzubillah. Bahkan banyak lagi hadis Nabi yang mencela pengumpat.
Mengumpat yang dibolehkan:
Al-Imam al-Nawawi menyenaraikan enam keadaan yang dibolehkan mengumpat.
(Lihat al-Azkar oleh Yahya bin Syarf al-Nawawi, hal. 208).
1. Ketika dizalimi. Orang yang dizalimi harus menceritakan mengenai orang yang menzaliminya kepada polis, peguam, hakim atau pihak berkuasa agar tindakan diambil.
2. Ketika memohon bantuan untuk mencegah kemungkaran. Jika kita terlihat maksiat, tetapi tiada upaya untuk mencegahnya. Seperti tiada ilmu untuk menegur maksiat tersebut. Maka, kita boleh memohon pertolongan orang yang berilmu untuk mencegah maksiat tersebut dengan ilmunya.
3. Ketika meminta fatwa. Seperti isu rumah tangga yang perlukan penyelesaian melalui fatwa hakim atau mufti.
4. Ketika mengingatkan seseorang daripada bahaya. Seperti menasihat penuntut ilmu agar tidak mengambil ilmu dari orang yang jahil.
5. Ketika menegur perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan.
Seperti teguran peminum arak, kaki judi dan lain-lain.
6. Ketika menjelaskan tanda pengenalan diri seseorang: Seperti kita ingin mencari seseorang yang kita terlupa namanya, tetapi kita hanya ingat sifatnya yang kurang sempurna. Lalu dinyatakan sifat tersebut agar dapat menemuinya.
Al-Syeikh Salim Al-Hilali berkata: “Keharusan mengumpat untuk keadaan-keadaan di atas adalah hukum susulan bukan hukum asal. Oleh itu, jika hilang sebab-sebab yang membolehkan mengumpat, maka dikembalikan hukumnya kepada hukum asal iaitu haramnya mengumpat.
Katanya lagi, “Dibolehkan mengumpat kerana darurat. Oleh itu, perbuatan mengumpat itu diukur sesuai dengan keperluannya sahaja. Maka tidak dibolehkan memperluaskan bentuk- bentuk di atas. Bahkan orang yang berada dalam salah satu daripada keadaan darurat di atas (sehingga dia dibolehkan mengumpat) hendaklah bertakwa kepada Allah dan janganlah dia menjadi termasuk di kalangan orang yang melampaui batas.” (Lihat Bahjat al-Naadzirin Syarh Riyadh al-Solihin oleh Salim al-Hilali, 4/35-36).
Isu dan tindakan kita:
Apa yang membimbangkan umpatan pada hari ini berunsur mengapi-apikan antara satu dengan yang lain. Bermula daripada isu politik negara yang membabitkan pemimpin kerajaan dan pembangkang sehingga isu anak melayu yang berkahwin sesama jantina, isu pelajar pintar yang dikatakan berubah sikap, isu gosip di kalangan artis dan lain-lain, kebanyakannya disebarkan dalam bentuk mendukacitakan. Bahkan dilihat seolah-olah melaga-lagakan sesama manusia.
Takuti ancaman Nabi:
Maksudnya: “Tidak akan masuk ke syurga pengadu domba.” (Hadis riwayat Muslim, no: 06).
Kita perlu bertindak lebih matang dan menjaga prinsip sebagai seorang Muslim dalam mengulas apa jua isu agar tidak tergolong di kalangan pengumpat dan pengadu domba, apatah lagi pendusta. Memastikan kebenaran maklumat yang diperoleh, bersangka baik, menasihati secara berhadapan, membetulkan kesalahan secara umum, bersabar dan berdoa adalah jalan keluar terbaik.
Ruangan minda kali ini diakhiri dengan memetik pesanan Rasulullah yang bermaksud: “Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah dia berkata baik atau berdiam diri.” (Hadis riwayat al-Bukhari, no: 6018)






1) Dengan surat ini saya ingin menceritakan kejadian tsunami pada tanggal 26 desember 2004, pada hari minggu saya dan kakak jalan-jalan pagi ke Blang Padang, kami ke mesjid raya baiturrahman kami melihat kolam banyak sekali ikan, sekitar liam belas menit saya merasa kepala sangat pening ternyata bukab kepala saya yang pening ternyata gempa yang cukup dahsyat, setelah gempa berhenti kami langsug pulang kerumah dengan jalan kaki dan melihat swalayan pante pirak sudah roboh, samapai dirumah kami istirahat sebentar tiba-tiba saya mendengar orang berteriak air naik - air naik kami sekeluarga langsung lari. Kami lari ke SD 15 kuta alam sampai disana kami naik lantai dua agar tidak kena air tsunami, sekitar setengah hari kami dijemput oleh tetangga untuk pergi kekampung ule kareng kami menginap salama dua malam, setelah itu kami dijemput oelh saudara kami dibawa kelembah hijau lhueng bata selama tiga hari.
2) Nama ayah Khairunnas M.Nur beliau bekerja sebagai tukang bangunan, ayah kahirunnas meninggal akibat Tsunami yang meporak poranda Aceh pada tanggal 26 desember 2004, waktu kejadian itu ayah khairunnas berada di Calang Aceh Barat disanalah Ayah Khairunnas meninggal, sepeninggalan ayah kahirunnas saya yamh menjadi kepala keluarga, pada mulanya saya bingung harus berbuat apa, tetapi lama kelamaan sadar juga untuk apa saya berputus asa lalu saya mulai hidup baru. Karena untuk membiayai kebutuhan kedua anak saya yang harus bertahan walaupun mereka tidak mempunyai ayah lagi saya harus menjadi ibu sekaligus posisi sebagai ayah buat mereka, makanya saya berusaha menjual pisang goreng pada saat itu.
3) Pada tanggal 26 desember 2004 berdepatan hari minggu, pada saat itu saya baru dari kota karena pada malam minggu kami tidur ditempat Ayah, ketika terjadi gempa itu saya bersama keluarga di depan umah, mama saya jualan sayur keliling, pada saat itu mama saya belum berangkat karena gempa dan adik saya bialng sama mama hari ini jangan jaulan, tetapi mama kami tetap pergi jualan, ketika mau berangkat ada orang berteriak air laut naik semua oarng tidak percaya, dan terdengar lagi suara letusan-letusan ketika mendengar letusan itu orangpun menjadi panic dan lari-lari ramai-ramai dan saya menarik tangan mama saya, tetapi mama saya tidak mau lari, mama memanggil samsul qamar adik saya dan setelah diajak lari sama samsul qamar akhirnya mama mau lari...
4) Di hari minggu yang cerah pada tanggal 26 Desember 2004, saya sedang duduk di warung paman tiba-tiba terjadi gempa yang sangat dahsyat, pada saat itu ibu saya sedang pergi kepasar untuk jualan sayur-sayuran, sedangkan ayah pergi ketambak ikan karena pada hari munggu itu ayah sedang panen ikan dan udang, setelah ibu pulang kami duduk bersama didepan rumah, tiba-tiba ada seorang Bapak lewat dengan kereta bapak itu mengatakan Air laut naik terus orang-oarng berlarian dijalan hingga jalan sepi, tetapi kami tidak lari tiba-tiba air laut menghancurkan rumah dan bangunan lainnya, kemudian kami langsung lari dengan ibu lewat jembatan disitulah saya dan ibu dihantam oleh gelombang tsunami saya tidak sadarkan diri lagi.....



















